KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN TEKNIK CHAIR SIDE TALK TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN SISWA KELAS V DAN VI DENGAN KETERBELAKANGAN MENTAL RINGAN DI SEKOLAH LUAR BIASA MEKAR ARUM KOTA CIREBON”. Shalawat beserta salam mudah-mudahan tercurah kepada junjunan Nabi Besar Muhammad SAW, para sahabatnya, keluarganya serta para pengikutnya pada akhir jaman.
Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma III (D-III) Ahli Madya Kesehatan Gigi Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. Penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan, pengetahuan serta sumber yang didapat, namun berkat bimbingan, dorongan dan bantuan dari pembimbing dan berbagai pihak, akhirnya Karya Tulis ilmiah ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini dengan penuh rasa kerendahan hati dan rasa hormat, izinkanlah penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. H. Mulyana, drs, MM, M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
2. Hadiyat Miko, drg, M.Kes., selaku ketua Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
3. Culia Rahayu, drg., selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktunya dengan memberikan bimbingan, dorongan, arahan, serta saran dan kritiknya dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Rudi Triyanto, S.Si.T., selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, kritik dan saran selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Seluruh Staf Dosen Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya yang telah membekali ilmu selama pendidikan sehingga mempermudah dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Staf Perpustakaan Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya yang telah membantu penulis menyediakan sumber-sumber dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
7. Suamiku dan anak-anakku yang telah memberikan dukungan moril dan materil selama menempuh pendidikan D-III Kesehatan Gigi.
8. Orang tua yang telah memberikan dukungan moril dan materil selama menempuh pendidikan D-III Kesehatan Gigi.
9. Serta semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
Semoga semua amal baik dari berbagai pihak dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini mendapat pahala yang setimpal dari Allah SWT. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Tasikmalaya, Maret 2009
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GRAFIK viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Perumusan Masalah 4
C. Keaslian Penulisan 4
D. Tujuan Penelitian 5
E. Manfaat Penelitian 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut 7
B. Chair Side Talk 9
C. Pengetahuan ................................................................... 10
D. Anak Keterbelakangan Mental 12
BAB III METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep 17
B. Hipotesa 17
C. Rancangan Penelitian 17
D. Populasi dan Sampel Penelitian 17
E. Alat Penelitian 18
F. Alat Ukur Penelitian 18
G. Jalan Penelitian 19
H. Variabel Penelitian 20
I. Definisi Operasional 20
J. Analisa Data 21
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 22
B. Pembahasan 35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 38
B. Saran 39
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Penilaian Kuesioner Penelitian Berdasarkan Jumlah Jawaban yang Benar dan Kategori Penilaian ... 19
Tabel 2: Distribusi Frekwensi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 22
Tabel 3: Distribusi Frekwensi Sampel Penelitian Berdasarkan Umur 23
Tabel 4: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 24
Tabel 5: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 26
Tabel 6: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 28
Tabel 7: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 29
Tabel 8: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 31
Tabel 9: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 32
Tabel 10: Hasil Penilaian Kuesioner Pada Kelas V 34
Tabel 11: Hasil Penilaian Kuesioner Pada Kelas VI 34
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1: Distribusi Frekwensi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 23
Grafik 2: Distribusi Frekwensi Sampel Penelitian Berdasarkan Umur 23
Grafik 3: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 25
Grafik 4: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 26
Grafik 5: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 28
Grafik 6: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 30
Grafik 7: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Kategori Penilaian 32
Grafik 8: Hasil Penilaian Kuesioner Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan dengan Teknik Chair Side Talk Berdasarkan Aspek Pengetahuan yang Dinilai dalam Kuesioner 33
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk merupakan suatu determinan penting yang menentukan hari depan bangsa dan Negara. Pertumbuhan penduduk mempunyai dampak terhadap keadaan ekonomi, kesehatan, sosial budaya, etiologi dan segi-segi kehidupan lainnya. Pertumbuhan penduduk mempengaruhi kesehatan masyarakat melalui pengaruhnya terhadap lingkungan, kesehatan lingkungan akibat meningkatnya kebutuhan hidup, kegiatan manusia serta makin berkembangnya aneka ragam perilaku manusia. Pembangunan kesehatan dapat berfungsi sebagai upaya pengendalian penduduk (Depkes, R.I., 1996).
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak lepas dari usaha kerjasama semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Turut sertanya masyarakat dalam setiap usaha pembangunan, khususnya di bidang kesehatan merupakan hal yang penting. Poerbonegoro (1957, cit. Depkes, R.I., 1996) mengemukakan, bahwa walaupun petugas kesehatan dapat melaksanakan usaha-usaha peningkatan kesehatan dengan baik, tetapi apabila tidak ada partisipasinya dari masyarakat, maka terwujudnya peningkatan kesehatan masyarakat sukar diharapkan.
Hasil laporan studi morbiditas dan stabilitas SKRT tahun 2001, menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut di Indonesia merupakan hal yang masih perlu diperhatikan, karena penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit tertinggi yang dikeluhkan oleh masyarakat, yaitu sebesar 60%. Penyakit gigi dan mulut yang terbanyak diderita masyarakat adalah karies (71%) dan kemudian diikuti oleh penyakit periodontal (65%) (http://www.radarsulteng.com).
Beberapa pakar kesehatan masyarakat menyatakan, salah satu faktor utama yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut di negara berkembang adalah perilaku. Perilaku yang dapat mempengaruhi karies adalah kebiasaan makan dan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Data SKRT 2001 juga menunjukkan perilaku masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan gigi masih rendah, dimana sebagian besar penduduk (61,5%) menyikat gigi kurang sesuai dengan anjuran program, yaitu setelah makan dan sebelum tidur, bahkan 16,6% tidak menyikat gigi (http://www.radar.sulteng.com).
Notoatmodjo (1996) menyatakan hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku, karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan lainnya. Asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi. Artinya, kualitas dari sumber komunikasi (sources) sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat. Tercapainya perubahan perilaku tersebut, pemerintah dalam hal ini petugas kesehatan perlu adanya peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut masyarakat melalui penyuluhan dengan materi dan metode yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Proses penyampaian materi penyuluhan kepada sasaran harus dengan metode yang tepat dan dapat membantu pencapaian usaha mengubah tingkah laku sasaran. Garis besarnya hanya ada dua jenis metode dalam penyluhan kesehatan gigi yaitu one way methode dan two way methode. One way methode menitikberatkan pada pendidik yang aktif, sasaran tidak diberi kesempatan untuk aktif. Two way methode menjamin adanya komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran. One way methode diantaranya: ceramah, pemutaran film, selebaran dan pameran. Two way methode diantaranya: wawancara, demonstrasi, sandiwara, simulasi, curah pendapat, roll playing dan tanya jawab. Demonstrasi adalah salah satu cara menyajikan informasi dengan cara mempertunjukan secara langsung objeknya atau menunjukan suatu proses atau prosedur (Herijulianti, dkk., 2002).
Metode demonstrasi banyak digunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Tujuannya yaitu untuk memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar, misal memperlihatkan bagaimana cara membersihkan gigi dan gusi yang benar (Herijulianti, dkk., 2002). Menyikat gigi merupakan cara yang dianjurkan untuk membersihkan seluruh deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi (Nio, 1987). Tujuan menyikat gigi adalah mengangkat sisa makanan yang biasanya menumpuk di cervix (http://www.anakku.net).
Pengetahuan tentang cara dan waktu menyikat gigi yang baik dan benar perlu diketahui, karena teknik menyikat gigi yang dilakukan pada masing-masing tersebut berbeda. Selain itu sangat penting untuk perlu diketahui tentang waktu yang tepat dan baik dalam menyikat gigi yaitu setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam (Depkes, R.I., 2000).
Cara menyikat gigi mulai dari gigi belakang kanan atau kiri digerakan kearah depan dan berakhir pada gigi belakang kanan atau kiri dari sisi lainnya. Ada beberapa macam cara menyikat gigi, yaitu gerakan vertikal, gerakan horizontal, gerakan roll teknik, dari beberapa cara tersebut, gerakan roll teknik merupakan gerakan sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari permukaan oklusal, ujung bulu sikat mengarah ke ujung akar, gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam lengkungan. Pada bulu-bulu sikat melalui mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap permukaan email. Ulangi gerakan ini sampai lebih kurang 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat. Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihkan sisa makanan di daerah interproksimal (Ginanjar, 2006). Setiap teknik mempunyai keuntungan dan kerugian, oleh karena itu pada akhirnya supaya gigi bersih, harus dipakai kombinasi berbagai teknik tergantung keadaan gigi individu (Nio, B.K., 1987).
Ginanjar (2006) menyatakan bahwa menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur adalah kegiatan rutin sehari-hari. Ada beberapa cara yang berbeda-beda dalam menggosok gigi, yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi adalah cara menyikat gigi harus dapat membersihkan semua deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi secara baik, terutama ruang sulcus gingiva dan ruang interdental. Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi serta cara menyikat gigi harus tepat dan efisien.
Green dan Vermillion tahun 1964, Martin, Meskin tahun 1974 dan WHO tahun 1971 (cit. Suwelo, 1992) mengusulkan cara untuk menilai kebersihan gigi dan mulut dengan memberi nilai (score) adanya plak dan karang gigi yang menempel di permukaan gigi. Indeks yang sering dipakai untuk menilai kebersihan gigi dan mulut adalah Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S).
Upaya promotif dan preventif paling efektif dilakukan pada sasaran anak-anak, karena perawatan kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini dan dilakukan secara continue agar menjadi kebiasaan (Depkes, R.I., 2003). Usia 10-12 tahun merupakan usia dimana anak sudah menuju kematangan fisik dan mental serta mampu berfikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Pada usia ini, anak seharusnya didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan sesuatu dengan benda-benda yang praktis dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu (Sumantri dan Syaodih, 2006).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat ke dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Demonstrasi Menyikat Gigi Terhadap Penurunan OHI-S pada Anak Usia 10-12 Tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009”.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap penurunan OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009.
C. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, karya tulis ilmiah yang berjudul “Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Demonstrasi Menyikat Gigi Terhadap Penurunan OHI-S pada Anak Usia 10-12 Tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009” belum pernah dilakukan, tetapi karya tulis ilmiah ini ada kemiripan dengan Karya Tulis Ilmiah Ida Widarsih (2007) yang berjudul “Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Metode Demonstrasi Menyikat Gigi Terhadap Penurunan OHI-S Murid Tunagrahita Ringan SLB Yayasan Kesejahteraan Sosial Cijeungjing Kabupaten Ciamis Tahun 2007”. Adapun letak perbedaannya yaitu tempat penelitian, sasaran penelitian, dan tahun penelitian.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap penurunan OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi pada anak usia 10-12 tahun.
b. Mengetahui gambaran OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009.
E. Manfaat Penelitian
1. Menambah wawasan bagi peneliti tentang gambaran pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap penurunan OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis.
2. Meningkatkan pengetahuan anak usia 10-12 tahun tentang teknik menyikat gigi.
3. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap penurunan OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung, Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis.
4. Menambah kepustakaan Jurusan Kesehatan Gigi POliteknik Kesehatan Tasikmalaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penyuluhan
1. Pengertian penyuluhan
Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. A.W. Van den Ban (1999, cit. Kartono, 2006) menyatakan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar.
Nazirudin dan Turmin (1998) menyatakan bahwa penyuluhan kesehatan merupakan proses belajar untuk mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif dari individu atau kelompok terhadap kesehatan agar yang bersangkutan menerapkan cara hidup sehat sebagai bagian dari cara hidupnya sehari-hari atas kesadaran dan kemauannya sendiri.
2. Tujuan penyuluhan
Pendidikan kesehatan merupakan bagian integral dari intervensi keperawatan pada individu, keluarga maupun kelompok masyarakat serta kegiatan sosial dan kesehatan lainnya, dengan demikian maka tujuan pendidikan kesehatan adalah:
a. Masyarakat menyadari bahwa kesehatan merupakan modal utama dan amat berharga dalam kehidupan sehari-hari.
b. Membantu individu, keluarga, dan masyarakat agar mereka mampu dan mau melakukan sendiri tindakan-tindakan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan fisik, mental, dan sosial yang optimal.
c. Mendorong pengembangan dan pemanfaatan fasilitas kesehatan.
(Nazirudin dan Turmin, 1998)
B. Metode Penyuluhan
1. Jenis-jenis metode penyuluhan
Pemilihan metode penyuluhan yang tepat sangat membantu pencapaian usaha mengubah tingkah laku sasaran (Herijulianti, dkk, 2002). Garis besarnya, hanya ada dua jenis metode penyuluhan:
a. One way methode
Metode ini menitikberatkan pada pendidik yang aktif, sedangkan sasaran tidak diberi kesempatan untuk aktif.
Yang termasuk metode ini:
1) Metode ceramah; yaitu cara penyajian informasi yang dilakukan dengan penjelasan lisan secara langsung kepada sasaran.
2) Melalui siaran radio.
3) Penyebaran selebaran.
4) Pameran adalah sekumpulan bahan atau materi yang disusun secara teratur dan menarik untuk diperlihatkan dengan maksud untuk mengajarkan, memperkenalkan, mempertunjukkan, mempromosikan, bahkan mempengaruhi sasaran yang melihatnya.
b. Two way methode
Metode ini menjamin adanya komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran.
Yang termasuk metode ini:
1) Wawancara
Adalah salah satu metode pendidikan kesehatan dengan mengadakan Tanya jawab dan pengarahan kearah tujuan.
2) Demonstrasi
Adalah salah satu cara menyajikan informasi dengan cara mempertunjukkan secara langsung objeknya atau menunjukkan suatu prosedur.
3) Simulasi
Adalah metode penyuluhan yang dalam pelaksanaannya dapat melakukan suatu kegiatan merupakan tiruan dari situasi sebenarnya.
4) Curah pendapat
Adalah pengungkapan atau pemberian pendapat, gagasan, atau ide secara cepat (spontan).
5) Roll playing
Adalah salah satu cara belajar dengan mempertontonkan aspek perilaku spesifik tertentu dari kehidupan sehari-hari baik secara langsung atau melalui media tertentu sesuai dengan tujuan belajar yang ditentukan.
6) Tanya jawab
Adalah proses interaksi yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan jawaban-jawaban dari topik belajar tertentu untuk mencapai tujuan belajar.
(Herijulianti, dkk, 2002)
C. Metode demonstrasi
1. Pengertian demonstrasi
Demonstrasi artinya memperlihatkan sesuatu cara kerja atau prosedur suatu tindakan, adegan-adegan tertentu dengan menggunakan alat peraga atau model (Nazirudin dan Turmin, 1998).
2. Pengertian metode demonstrasi
Metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya atau bekerjanya suatu proses atau langkah- langkah kerja dari suatu alat atau instrument tertentu (http://www.apadefinisinya.blogspot.com).
3. Tujuan demonstrasi
a. Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar, missal memperlihatkan bagaimana cara membersihkan gigi dan gusi yang benar, alat dan bahan apa yang dipergunakan, dan bagaimana cara menggunakannya.
b. Meyakinkan kepada kelompok bahwa ide baru tersebut biasa dilaksanakan setiap orang.
c. Meningkatkan minat orang untuk belajar, dan mencoba sendiri dengan prosedur yang didemonstrasikan.
(Herijulianti, dkk., 2002)
D. Menyikat Gigi
1. Pengertian menyikat gigi
Menyikat gigi merupakan cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan seluruh deposit lunak dan plak pada permukaan gigi dan gusi (Nio, B.K., 1987).
2. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menyikat gigi
Menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur adalah kegiatan rutin sehari-hari. Terdapat beberapa cara yang berbeda-beda dalam menggosok gigi, yang perlu diperhatikan ketika menyikat gigi adalah:
a. Cara menyikat gigi harus dapat membersihkan semua deposit pada permukaan gigi dan gusi secara baik, terutama sulcus gingiva dan ruang interdental.
b. Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan mengabrasi lapisan gigi dengan tidak memberikan tekanan berlebih.
c. Cara menyikat gigi harus tepat dan efisien.
d. Frekuensi menyikat gigi maksimal 3 kali sehari (setelah sarapan pagi, makan siang, dan sebelum tidur) atau minimal 2 kali sehari (setelah sarapan pagi dan sebelum tidur).
(http://www.senyumsehat.wordpress.com)
3. Tujuan menyikat gigi
Effendi (cit. Rosiyani, 2006) menyebutkan tujuan menyikat gigi adalah sebagai berikut:
a. Memberikan keterampilan dalam menyikat gigi.
b. Mendorong anak untuk setiap hari secara teratur menyikat giginya di rumah.
c. Meningkatkan penghargaan anak terhadap keadaan gigi dan mulut yang bersih.
d. Anak dapat merasakan manfaat dari keadaan gigi dan mulut yang sehat.
4. Macam-macam teknik menyikat gigi
Ada beberapa macam teknik menyikat gigi:
a. Teknik vertikal
Menyikat gigi dengan metode teknik vertikal merupakan cara yang mudah dilakukan, sehingga orang-orang yang berlum diberi pendidikan bisa menyikat gigi dengan teknik ini (NIo, B.K., 1987). Arah gerakan menyikat gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas dan bawah tertutup. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke bukal/labial, sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap lingual/palatal, gerakan menyikat gigi ke atas ke bawah dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan yaitu bila menyikat gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gusi sehingga akar gigi terlihat (Ginanjar, 2006).
b. Teknik horizontal
Menyikat gigi dengan teknik horizontal merupakan gerakan menyikat gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal dan lingual (Ginanjar, 2006). Letak bulu sikat tegak lurus pada permukaan labial, bukal, palatinal, lingual, dan oklusal (Nio, B.K., 1987). Gerakan menyikat di bagian oklusal dikenal sebagai scrub brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan kunyah (Ginanjar, 2006). Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan penekanan berlebih adalah bentuk yang paling sering ditemukan (http://www.klikdokter.com).
c. Teknik roll
Menyikat gigi dengan teknik roll merupakan gerakan sederhana, paling dianjurkan, efisien, dan menjangkau semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari permukaan oklusal. Ujung bulu sikat mengarah ke apex. Gerakan perlahan-lahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam lengkungan. Waktu bulu sikat melalui mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap permukaan email. Ulangi gerakan ini sampai ± 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat. Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihkan sisa makanan di daerah interproksimal (Ginanjar, 2006). Menyikat gigi dengan roll teknik untuk membersihkan kuman yang menempel pada gigi. Teknik roll adalah menggerakkan sikat seperti berputar (Rubianto, 2006).
d. Teknik charter’s
Menyikat gigi dengan teknik ini merupakan cara yang paling baik untuk memelihara jaringan, karena selain dapat membersihkan permukaan gigi juga dapat memijat gusi (Nio, B.K., 1987). Bulu sikat ditempatkan 450 terhadap poros setiap eleman mengarah oklusal, dan agak ditekan pada ruang aproksimal. Kemudian dibuat 3 hingga 4 gerakan bergetar dengan sikat. Setelah sikat diangkat dari permukaan gigi, kemudian dilakukan gerakan yang sama lagi 3 hingga 4 kali pada setiap area yang dapat dicapai sikat. Ini dimaksudkan memberi pijatan pada gingival marginal dan membersihkan ruang interproksimal. Permukaan oklusal gigi dibersihkan dengan gerakan berputar. Metode ini relatif rumit dan memerlukan waktu (http://www.public.kompasiana.com).
e. Teknik bass
Teknik ini yang dibersihkan adalah daerah saku gusi, sedangkan tepi gusi tidak dipijat (Nio, B.K., 1987). Bulu-bulu sikat ditempelkan pada setiap elemen searah apex pada sudut 450 dengan arah poros. Ujung sikat dijaga sejajar oklusal, dengan tekanan ringan dibuat gerakan bergetar ke arah horizontal. Sementara itu, bulu-bulu dibawa ke ruang interproksimal dan sulkus gingival (http://www.public. kompasiana.com).
f. Teknik stillman
Teknik ini, ujung bulu sikat mengarah ke apikal sehingga penyikatan terbatas pada daerah servix gigi dan gusi (Nio, B.K., 1987). Bulu sikat ditempatkan pada sudut kecil terhadap elemen gigi pada arah apex hingga terletak baik pada gingival marginal maupun servix. Lalu, dibuat gerakan bergetar dengan sedikit tekanan hingga gingival terlihat berwarna pucat. Segera setelahnya kontak bulu pada jaringan dilepas agar menghentak, untuk kembali alirkan darah ke gingival, permukaan oklusal dibersihkan dengan menggerakkan bulu-bulu sikat di permukaannya. Metode ini baik untuk orang dewasa meski teknik melakukannya lumayan rumit, tapi hasilnya baik (http://www.public.kompasiana.com).
g. Teknik fone’s /teknik sirkuler
Gerakan memutar, permukaan setiap elemen dibersihkan. Oklusal dan bukal gigi dibersihkan dengan meletakkan sikat tegak lurus poros setiap elemen, lalu membuat gerakan memutar, meluas menjangkau gingival. Permukaan lingual dibersihkan dengan gerakan sirkuler kecil. Permukaan oklusal dengan gerakan menyikat (http://www.public. kompasiana.com).
h. Teknik fisiologis
Teknik ini digunakan sikat gigi dengan bulu-bulu sikat yang lunak. Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa penyikatan gigi menyerupai jalannya makanan, yaitu dari magkota ke arah gusi. Letak bulu sikat tegak lurus pada pemukaan gigi, sedangkan tangkai sikat gigi dipegang horizontal (Nio, B.K., 1987).
i. Teknik kombinasi
Teknik ini menggabungkan teknik gosok gigi, horizontal (kiri-kanan), vertikal (atas-bawah) dan sirkular (memutar) (Rini, 2007).
E. Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S)
1. Pengertian OHI-S
OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) digunakan untuk menilai kebersihan gigi dan mulut seseorang yang didapat cara mengukur debris dan kalkulus pada permukaan gigi (Herijulianti, dkk, 2002).
2. Kriteria dan penilaian debris dan kalkulus untuk OHI-S
Sebelum memeri penilaian pada debris/kalkulus, pertama-tama permukaan gigi yang akan dilihat dibagi dengan garis-garis khayalan menjadi 3 bagian yang sama luasnya (Nio, B.K., 1987).
Bagian A1 = sepertiga permukaan gigi bagian servikal.
Bagian A2 = sepertiga permukaan gigi bagian tengah.
Bagian A3 = sepertiga permukaan gigi bagian insisal.
Pemeriksaan debris kriterianya adalah sebagai berikut:
KRITERIA NILAI
1. Pada permukaan gigi yang terlihat, tidak ada debris maupun pewarnaan ekstrinsik.
2. a. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris lunak yang menutupi permukaan gigi seluas sepertiga permukaan atau kurang dari sepertiga permukaan.
b. Pada permukaan gigi yang terlihat, tidak ada debris lunak, akan tetapi ada pewarnaan ekstrinsik yang menutupi permukaan gigi sebagian atau seluruhnya.
3. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris lunak yang menutupi permukaan tersebut seluas lebih dari sepertiga, tetapi kurang dari dua pertiga permukaan gigi.
4. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris yang menutupi permukaan tersebut seluas lebih dari dua pertiga permukaan atau seluruh permukaan gigi.
0
1
2
3
Contoh :
Nilai 0 = tidak ada debris
Nilai 1 = ada debris pada 1/3 (sepertiga) atau kurang dari 1/3
bagian gigi, dihitung dari servikal.
Nilai 2 = ada debris lebih dari 1/3 (sepertiga) atau kurang dari 2/3
bagian gigi, dihitung dari servikal.
Nilai 3 = ada debris lebih dari 2/3 atau seluruh bagian gigi.
Pemeriksaan kalkulus adalah sebagai berikut :
KRITERIA NILAI
1. Tidak ada karang gigi.
2. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada karang gigi supragingival. Menutupi permukaan gigi kurang dari sepertiga.
3. a. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada karang gigi supragingival. Menutupi permukaan gigi lebih dari sepertiga atau kurang dari duapertiga.
b. Sekitar bagian servikal gigi terdapat sedikit karang gigi subgingival.
4. a. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada karang gigi supragingival. Menutupi permukaan gigi lebih dari duapertiga atau seluruh permukaan gigi.
b. Pada permukaan gigi ada karang gigi subgingival yang menutupi dan melingkari seluruh bagian servikal (“A.Continuous band of subgingival calculus).
0
1
2
3
Contoh :
Nilai 0 = tidak ada karang gigi.
Nilai 1 = ada karang gigi supragingival pada kurang dari 1/3
bagian gigi, dihitung dari servikal.
Nilai 2 = ada karang gigi supragingival lebih dari 1/3 atau kurang
dari 2/3 bagian gigi, dihitung dari servikal.
Terdapat sedikit karang gigi subgingival.
Nilai 3 = ada karang gigi supragingival lebih dari 2/3 bagian atau
seluruh bagian gigi, dihitung dari servikal.
Terdapat karang gigi subgingival melingkari seluruh
servikal gigi.
Menghitung OHI-S maka digunakan rumus :
OHI-S = DEBRIS INDEKS + KALKULUS INDEKS
(Nio, 1987).
Kriteria penilaian OHI-S ditentukan dengan memakai kriteria debris score dan kalkulus score yaitu baik, sedang atau buruk.
Kriteria debris/kalkulus score dapat dikatakan :
Baik (good), apabila nilai berada diantara 0-0,6
Sedang (fair), apabila nilai berada diantara 07-1,8
Buruk (poor), apabila nilai berada diantara 1,9-3,0
3. Gigi indeks yang diperiksa
Pemeriksaan debris dan kalkulus dilakukan pada gigi tertentu dan pada permukaan tertentu, yaitu :
a. Untuk rahang atas:
1) Gigi M1 kanan pada permukaan bukal
2) Gigi I1 kanan pada permukaan labial
3) Gigi M1 kiri pada permukaan bukal.
b. Untuk rahang bawah:
1) Gigi M1 kiri pada permukaan lingual
2) Gigi I1 kiri pada permukaan labial
3) Gigi M1 kanan pada permukaan lingual
Catatan:
a. Bila gigi M1 RA atau RB tidak ada, maka penilaian dilakukan pada gigi M2 RA/RB.
b. Bila gigi M1 dan M2 RA/RB tidak ada, maka penilaian dilakukan pada gigi M3 RA/RB.
c. Bila gigi M1, M2, M3 RA/RB tidak ada, tidak dilakukan penilaian.
d. Bila gigi I1 kanan RA tidak ada, penilaian dilakukan pada I1 kiri RA.
e. Bila gigi I1 kanan dan kiri RA/RB tidak ada, tidak dilakukan penilaian.
f. Bila gigi I1 kiri RB tidak ada, penilaian dilakukan I1 kanan RB.
g. Bila gigi I1 kiri dan kanan RB tidak ada, tidak dilakukan penilaian.
4. Skor OHI-S
a. Baik, apabila nilai berada antara 0 – 1,2
b. Sedang, apabila nilai berada antara 1,3 – 3,0
c. Buruk, apabila nilai berada antara 3,1 – 6,0
(Herijulianti, dkk, 2002).
F. Anak Usia 10-12 Tahun
Perubahan pada perkembangan merupakan produk dari proses-proses biologis, kognitif dan sosial. Proses-proses itu terjadi pada perkembangan manusia yang berlangsung pada keseluruhan siklus hidupnya. Untuk memudahkan pemahaman tentang perkembangan maka dilakukan pembagian berdasarkan waktu yang dilalui manusia berdasarkan fase. Santrok dan Yussen membaginya menjadi lima fase yaitu : fase prenatal, fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase anak akhir dan fase remaja (Sumantri dan Syaodih, 2006)
Fase remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa awal yang dimulai pada usia 10-12 tahun dan berakhir sekitar umur 18-22 tahun (Sumantri dan Syaodih, 2006). Pada usia 10-12 tahun, anak-anak secara sadar menggunakan dan mengikuti aturan. Anak mengerti bahwa aturan merupakan sesuatu yang sederhana, dimana setiap orang menyetujui, jika setiaip orang setuju untuk mengubahnya, aturan itu dapat diubah (Djiwandono, 2006).
Sikap anak usia 10-12 tahun, menurut Ahmadi dan Sholeh (2005, cit. Nurjanah, 2008) adalah : a) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit, b) amat realstis, ingin tahu dan ingin belajar, c) membutuhkan seorang guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk memenuhi keinginannya, d) membuat peraturan sendiri dalam permainan, e) gemar membuat kelompok sebaya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Variabel bebas Variabel terikat
B. Hipotesa
Ada pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap perubahan perilaku dalam menurunkan OHI-S di Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
C. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment dengan rancangan penelitian one group pretest and posttest designed yaitu melakukan perlakuan atau intervensi yang sama pada satu kelompok sampel dengan membandingkan hasil yang diperoleh sebelum tindakan dengan sesudah tindakan atau before and after study (Notoatmodjo, 2002).
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang sudah menikah yang bertempat tinggal di Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
E. Alat dan Bahan Penelitian
1. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kartu status untuk mencatat dan mengukur keadaan seluruh gigi di intra oral.
2. Alat diagnostik set
a. Kaca mulut
b. Sonde
c. Pinset
d. Eksavator
3. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Alkohol
b. Kapas
c. Tissue
d. Disclossing solution
e. Sikat gigi
f. Pasta gigi
g. Pantum gigi
F. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari subjek penelitian yaitu masyarakat Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya melalui penyuluhan tentang teknik menyikat gigi serta pemeriksaan intra oral, sedangkan data sekunder dari telaah buku-buku sumber yang berkaitan dengan judul penelitian.
G. Jalan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan cara:
1. Persiapan
a. Perizinan dari lembaga Politeknik Kesehatan Tasikmalaya Jurusan Kesehatan Gigi.
b. Perizinan dari Kepala Desa Neglasari.
c. Persiapan tempat
d. Persiapan alat dan bahan
e. Persiapan formulir penelitian untuk mencatat hasil pemeriksaan
f. Melakukan kalibrasi dengan rekan mahasiswa yang berjumlah 3 orang dari Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Tasikmalaya untuk menyamakan persepsi.
2. Pelaksanaan penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan pada masyarakat Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
H. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi, sedangkan variabel terikat adalah penurunan OHI-S pada masyarakat Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
I. Definisi Operasional
1. Penyuluhan adalah memberikan pengetahuan kepada individu maupun kelompok agar sasaran mengetahui cara hidup sehat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Metode demonstrasi menyikat gigi merupakan sebuah metode untuk memperlihatkan teknik menyikat gigi yang baik dan benar.
3. Penurunan OHI-S merupakan penurunan angka kebersihan gigi dan mulut dengan cara pemeriksaan intra oral.
J. Analisa Data
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap perubahan perilaku dalam menurunkan OHI-S di Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik geografi
Lokasi Blok Kadawung terletak di Dusun Barengkok Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis, dengan jarak 2 km dari alun-alun Cijulang. Batas wilayah Blok Kadawung adalah :
a. Sebelah selatan : jalan desa
b. Sebelah utara : sawah peduduk
c. Sebelah timur : sungai
d. Sebelah barat : sawah penduduk
2. Karakteristik demografi
Blok kadawung terdapat 54 rumah di tanah seluas 1,2 ha dengan jumlah penduduk 254 orang. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Jumah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4 : Distribusi frekuensi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah %
1 Laki-laki 123 48,43
2 Perempuan 131 51,57
Jumlah 254 100
Tabel di atas menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin yaitu jumlah penduduk laki-laki sebanyak 123 orang (48,43%) dan jenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 131 orang (51,57%).
3. Gambaran umum sampel penelitian
Penelitian dilakukan pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis dengan jumlah responden sebanyak 20 orang, yang berjenis kelamin laki-laki 10 orang (50%) dan jenis kelain perempuan 10 orang (50%). Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5 : Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah %
1 Laki-laki 10 50
2 Perempuan 10 50
Jumlah 20 100
Tabel 5 di atas menunjukkan sampe yang berjenis kelamin laki-laki 10 orang (50%) dan perempuan 10 orang (50%).
Distribusi frekuensi sampel berdasarkan golongan golongan umur dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6 : Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan golongan umur
No. Golongan umur Jumlah %
1 10 tahun 8 40
2 11 tahun 6 30
3 12 tahun 6 30
Jumlah 20 orang 100
Tabel 6 di atas menunjukkan sampel yang berjumlah paling banyak yaitu pada umur 10 tahun sebanyak 8 orang (40%), sedangkan pada umur 11 tahun 6 orang (30%) dan pada umur 12 tahun berjumlah 6 orang (30%).
4. Gambaran umum tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 10-12 tahun sebelum dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi di Dusun Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis
Penelitian tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 10-12 tahun di Disin Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis yang berjumlah 20 orang, sebelum dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini :
Tabel 7 : Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
Jumlah
Responden Kriteria OHI-S Jml
Orang Rata-rata
OHI-S
Baik Jml Sedang Jml Buruk Jml
Laki-laki 3 1,48 2 4,66 5 16,96 10 2,31
Perempuan 0 0 9 25,35 1 3,33 10 2,86
Jumlah 3 1,48 11 30,01 6 20,29 20 2,58
Tabel diatas yang mempunyai kriteria baik 3 orang, yang mempunyai kriteria sedang 11 orang dan kriteria buruk berjumlah 6 orang dengan nilai rata-rata OHI-S sebesar 2,58 termasuk kriteria sedang. Selanjutnya kalau menurut jenis kelamin, sampel berjenis kelamin laki-laki kriteria OHI-S baik 3 orang, kriteria sedang 2 orang, dan kriteria buruk 5 orang dengan nilai rata-rata OHI-S 2,31 termasuk kriteria sedang. Pada sampel berjenis kelamin perempuan yang mempunyai kriteria OHI-S baik tidak ada, kriteria sedang 9 orang dan kriteria buruk 1 orang, sedang nilai rata-rata OHI-S sebesar 2,86 termasuk kriteria sedang.
5. Pengambilan data akhir dan hasil pemeriksaan OHI-S
Setelah dilakukan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s selama 4 kali pada anak usia 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis serta setelah anak-anak melaksanakan menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s sebagaimana yang telah dicontohkan dalam demonstrasi. Dilakukan pemeriksaan kembali kebersihan gigi dan mulut dengan mengukur OHI-S untuk mendapatkan data akhir.
Data hasil pemeriksaannya adalah sebagai berikut dengan kriteria baik berjumlah 17 orang, kriteria sedang 2 dan kriteria buruk 1, seperti yang terlihat pada tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan tingkat kebersihan gigi dan mulut sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
Jumlah
Responden Kriteria OHI-S Jml
Orang Rata-rata
OHI-S
Baik Jml Sedang Jml Buruk Jml
Laki-laki 9 7,65 0 - 1 3,16 10 1,08
Perempuan 8 5,96 2 3,66 0 - 10 0,96
Jumlah 17 13,61 2 3,66 1 3,16 20 1,02
Tabel diatas yang mempunyai kriteria baik 17 orang, yang mempunyai kriteria sedang 2 orang dan kriteria buruk berjumlah 1 orang dengan nilai rata-rata OHI-S sebesar 1,02 termasuk kriteria baik. Selanjutnya kalau menurut jenis kelamin, sampel berjenis kelamin laki-laki kriteria OHI-S baik 9 orang, kriteria sedang 2 orang, dan kriteria buruk tidak ada dengan nilai rata-rata OHI-S 1,08 termasuk kriteria baik. Pada sampel berjenis kelamin perempuan yang mempunyai kriteria OHI-S baik 8 orang, kriteria sedang 2 orang dan kriteria buruk 2 orang, sedang nilai rata-rata OHI-S sebesar 0,96 termasuk kriteria baik. Berdasarkan tabel no. 3 dan no. 4 diatas mengenai tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s terdapat penurunan nilai OHI-S, kriteria baik yang tadinya 3 orang menjadi 17 orang, kriteria sedang yang semula 11 orang menjadi 2 orang dan buruk yang tadinya 6 orang menjadi 1 orang. Distribusi sampel penelitian berdasarkan kriteria tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini:
Tabel 5. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
Kriteria
Kebersihan Jumlah %
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Baik 3 17 15% 85%
Sedang 11 2 5,57% 10%
Buruk 6 1 3,0% 5%
Jumlah 20 20 100% 100%
Tabel diatas dapat dilihat perbandingan sebelum dan sesudah dilakukan kegiatan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s yaitu kriteria OHI-S baik sebelum dilakukan kegiatan demonstrasi ada 3 orang tetapi sesudah dilakukan kegiatan demonstrasi berubah menjadi 17 orang. Pada kriteria sedang yang sebelum demonstrasi ada 11 orang tetapi setelah dilakukan demonstrasi menjadi 2 orang, begitu pula pada kriteria buruk yang sebelum demonstrasi 6 orang tetapi setelah dilakukan demonstrasi turun menjadi 1 orang, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Grafik 1. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan kriteria tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
Menurut grafik diatas perbedaan keadaan tingkat kebersihan gigi dan mulut anak usia 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s dari kriteria baik yang sebelumnya 15% menjadi 86% kemudian dari kriteria sedang yang sebelumnya 55% menjadi 10% dan dari kriteria buruk yang sebelumnya 30% menurun menjadi 5%.
Tabel 6. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan kriteria tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
Kriteria Laki-laki Perempuan
Sebelum % Sesudah % Sebelum % Sesudah %
Baik 3 30 9 90 0 0 8 80
Sedang 2 20 0 0 9 90 2 20
Buruk 5 50 1 10 1 10 0 0
Jumlah 10 100 10 100 10 100 10 100
Dari tabel diatas terlihat ada perbedaan kriteria nilai OHI-S sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menggosok gigi yaitu pada golongan jenis kelamin laki-laki kriteria OHI-S baik dari 30% menjadi 90%, tapi pada kriteria buruk yang sebelumnya 50% menjadi 10%, sedangkan pada golongan jenis kelamin perempuan kriteria OHI-S baik yang tadinya 0% menjadi 80%, begitu juga pada kriteria buruk yang sebelumnya 10% menjadi 0%. Selanjutnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Grafik 2. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan kriteria tingkat kebersihan gigi dan mulut sebelum dan sesudah dilakukan demonstrasi menyikat gigi anak 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis Tahun 2009
B. Pembahasan
Penelitian dilakukan pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis dengan jumlah responden sebanyak 20 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki (50%) dan 10 orang perempuan (50%). Penelitian dilakukan selama sebulan yang dimulai dari tanggal 6 Juni 2009 sampai tanggal 27 Juni 2009 dengan disertai penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi sebanyak 4 kali yaitu 1 minggu 1 kali dan dibantu oleh 2 orang mahasiswa tingkat III Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. Junjungan pertama dilakukan pada tanggal 6 Juni 2009 dengan melakukan pemeriksaan OHI-S awal (pretest) untuk mendapatkan data awal, setelah data didapat selanjutnya dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun. Junjungan ke dua dan ke tiga dilakukan pada tanggal 13 Juni 2009 dan tanggal 20 Juni 2009, dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun. Kunjungan ke empat dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2009, dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun lalu dilakukan pemeriksaan OHI-S akhir (postest) untuk mengetahui apakah ada pengaruh atau tidak setelah dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh, seperti yang terlihat pada tabel 9, menunjukkan bahwa rata-rata OHI-S anak sebelum dilakukan penyuluhan dengan metode demontrasi menyikat gigi didapat hasil sebagai berikut : kriteria baik dengan rata-rata OHI-S 0,49 berjumlah 3 orang (15%), kriteria sedang dengan rata-rata OHI-S 2,31 berjumlah 11 orang (55%), kriteria buruk dengan rata-rata OHI-S 3,36 berjumlah 6 orang (30%). Setelah diberikan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun, didapat hasil sebagai berikut : kriteria baik dengan rata-rata OHI-S 0,79 berjumlah 17 orang (85%), kriteria sedang dengan rata-rata OHI-S 1,83 berjumlah 2 orang (10%), kriteria buruk dengan rata-rata OHI-S 3,16 berjumlah 1 orang (5%). Berarti setelah dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi pada anak usia 10-12 tahun terdapat peningkatan dari 15% (3 orang) menjadi 85% (17 orang) yaitu dari rata-rata OHI-S 0,49 menjadi 0,79 dengan kriteria baik, kriteria sedang terdapat penurunan dari 55% (11 orang) menjadi 10% (2 orang) dengan rata-rata OHI-S 2,31 menjadi 1,83, kriteria buruk dari 30% (6 orang) menjadi 5% (1 orang) dengan rata-rata OHI-S 3,36 menjadi 3,16), sehingga diperoleh penurunan OHI-S sebesar 70%. Dengan demikian, ada pengaruh penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi terhadap penurunan OHI-S pada anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis.
Penurunan OHI-S ini disebabkan anak usia 10-12 tahun di Dusun Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis mendapatkan ilmu baru tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar melalui penyuluhan dengan metode demonstrasi menyikat gigi yaitu dengan memperlihatkan sesuatu cara kerja atau prosedur suatu tindakan dengan menggunakan alat peraga atau model (Nazirudin dan Turmin, 1998). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Levie (1975, cit. Arsyad, 2002) menyatakan bahwa belajar dengan menggunakan indera ganda yaitu pandang dan dengan akan memberikan keuntungan bagi anak. Anak akan belajar lebih banyak daripada jika materi disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar. Perolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat menonjol perbedaannya. Kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang 5% diperoleh melalui indera dengar dan 5% dari indera lainnya. Dale (1969, cit. Arsyad, 2002), memperkirakan bahwa perolehan hasil belajar melalui indera pandang sebesar 75%, melalui indera dengar 13% dan melalui indera lainnya sekitar 12%.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Derajat kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis sebelum dilakukan kegiatan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s OHI-S rata-rata 2,59 dengan kriteria sedang, sedangkan sesudah perlakuan menjadi 1,62 dengan kriteria baik.
2. Ada peranan pada pelaksanaan demonstrasi menyikat gigi dengan teknik roll dan teknik fone’s dalam menurunkan angka OHI-S sebesar 1,54 pada anak usia 10-12 tahun di Kampung Barengkok Blok Kadawung Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, maka peneliti memberikan saran terhadap upaya tersebut sebagai berikut:
1. Kegiatan demonstrasi menyikat gigi dilakukan dengan teknik roll dan teknik fone’s pada setiap kali pelaksanaan sikat gigi masal.
2. Perawat gigi sebagai pembina UGKMD mampu mempertahankan pelaksanaan sikat gigi masal ini sehingga akan tercapai untuk memelihara kesehatan gigi dan mulutnya.
3. Adanya koordinasi, yaitu kerjasama yang baik antara desa, sekolah dan perawat gigi sebagai penyuluh. Sebagai instansi yang terkait, supaya penyuluhan dapat dilaksanakan dengan optimal dan hasilnya dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.
4. Jadwal diberikan sebelum melaksanakan demonstrasi sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar siswa.
5. Orang tua dilibatkan dalam upaya tersebut, sehingga memotivasi anak ma dan mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat.
HASIL SURVEI KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT (OHI-S) PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN SEBELUM DILAKUKAN DEMONSTRASI MENYIKAT GIGI DENGAN TEKNK ROLL
No Nama Umur L/P DI CI OHI-S Kriteria
1 Muliawati 10 th P 3,00 0,00 3,00 Sedang
2 Siti Fatimah 12 th P 3,00 0,00 3,00 Sedang
3 Dikdik Rosdika 12 th L 3,00 0,66 3,66 Buruk
4 Kiki Farida 10 th P 3,00 0,33 3,33 Buruk
5 Rizal Maulana 11 th L 3,00 0,16 3,16 Buruk
6 Yusef Solihin 11 th L 3,00 0,33 3,33 Buruk
7 Asep Saefudin 11 th L 3,00 0,00 3,00 Sedang
8 Yuli Suhendi 10 th P 2,83 0,00 2,83 Sedang
9 Sofa Latifah 12 th P 2,66 0,00 2,66 Sedang
10 Solihin 10 th L 3,00 0,50 3,50 Buruk
11 Farid Nurjaman 12 th L 0,66 0 0,66 Baik
12 Angga Firdaus 10 th L 1,66 0 1,66 Sedang
13 Lia Amalia 10 th P 1,83 0 1,83 Sedang
14 Yudi Achyar 11 th L 0,16 0 0,16 Baik
15 Nida Octaviani 11 th P 3,00 0 3,00 Sedang
16 Fadilah Ramdani 10 th L 3,00 0,33 3,33 Buruk
17 Dini Noviani 10 th P 3,00 0 3,00 Sedang
18 Deni Maulana 11 th L 0,66 0 0,66 Baik
19 Dela Nurafni 12 th P 3,00 0 3,00 Sedang
20 Nurani Ariyanti 12 th P 3,00 0 3,00 Sedang
Jumlah 49,46 2,31 51,80
Rata-rata OHI-S 2,59 Sedang
1. OHI-S rata-rata : (Sedang)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
2. OHI-S rata-rata laki-laki : (Sedang)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
3. OHI-S rata-rata perempuan: (Sedang)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
Jumlah Responden Kriteria Jumlah
Baik % Sedang % Buruk %
20 3 15% 11 55% 6 30% 100%
Jumlah 3 15% 11 55% 6 30% 100%
DI rata-rata : (Buruk)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
CI rata-rata : (Baik)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
HASIL SURVEI KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT (OHI-S) PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN SESUDAH DILAKUKAN DEMONSTRASI MENYIKAT GIGI DENGAN TEKNK ROLL
No Nama Umur L/P DI CI OHI-S Kriteria
1 Muliawati 10 th P 1,66 0 1,66 Sedang
2 Siti Fatimah 12 th P 0,33 0 0,33 Baik
3 Dikdik Rosdika 12 th L 1,00 0 1,00 Baik
4 Kiki Farida 10 th P 0,83 0 0,83 Baik
5 Rizal Maulana 11 th L 3,00 0,16 3,16 Buruk
6 Yusef Solihin 11 th L 0,83 0 0,83 Baik
7 Asep Saefudin 11 th L 1,00 0 1,00 Baik
8 Yuli Suhendi 10 th P 1,16 0 1,16 Baik
9 Sofa Latifah 12 th P 1,00 0 1,00 Baik
10 Solihin 10 th L 1,00 0 1,00 Baik
11 Farid Nurjaman 12 th L 1,00 0 1,00 Baik
12 Angga Firdaus 10 th L 0,66 0 0,66 Baik
13 Lia Amalia 10 th P 0,66 0 0,66 Baik
14 Yudi Achyar 11 th L 0,16 0 0,16 Baik
15 Nida Octaviani 11 th P 0,66 0 0,66 Baik
16 Fadilah Ramdani 10 th L 1,00 0 1,00 Baik
17 Dini Noviani 10 th P 2,00 0 2,00 Sedang
18 Deni Maulana 11 th L 1,00 0 1,00 Baik
19 Dela Nurafni 12 th P 0,66 0 0,66 Baik
20 Nurani Ariyanti 12 th P 0,66 0 0,66 Baik
Jumlah 20,27 0,16 20,43
Rata-rata OHI-S 1,02 Baik
1. OHI-S rata-rata : (Baik)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
2. OHI-S rata-rata laki-laki : (Baik)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
3. OHI-S rata-rata perempuan: (Baik)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
Jumlah Responden Kriteria Jumlah
Baik % Sedang % Buruk %
20 17 85% 2 10% 1 5% 100%
Jumlah 17 85% 2 10% 1 5% 100%
DI rata-rata : (Sedang)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
CI rata-rata : (Baik)
Presentase kriteria baik :
Presentase kriteria sedang :
Presentase kriteria buruk :
PENGARUH PENYULUHAN DENGAN METODE DEMONSTRASI
MENYIKAT GIGI TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU
DALAM MENURUNKAN OHI-S DI KAMPUNG NAGA
TAHUN 2009
Proposal Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan
Pendidikan Ahli Madya (D-III) Kesehatan Gigi
Disusun oleh:
NOPY NURLAELLA
NIM. P2.06.25.0.06.018
DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
JURUSAN KESEHATAN GIGI
TASIKMALAYA
2009
DAFTAR PUSTAKA
Antonius, 2008, Definisi Persepsi dan Perilaku, http://www.antoniusfelix-shared.blogspot.com/2008/oktober29.
Departemen Kesehatan R.I., 1996, Ilmu Kesehatan Masyarakat Kependudukan/ Keluarga Berencana, Depkes RI., Bandung, hal: 26.
-----------------------------------., 1996, Ilmu Kesehatan Masyarakat Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Depkes RI., Bandung, hal: 12-13.
Ginanjar, 2006, Teknik Menyikat Gigi, http://www.pikiran-rakyat.com.
Herijulianti, dkk., 2002, Pendidikan Kesehatan Gigi, EGC, Jakarta, hal:
Imelda, K., 2006, Upaya Pemerintah Dalam Peningkatan Kesehatan Gigi dan Mulut, http://www.Library.usu.ac.id/index.php/componen.
Kartono, 2006, Penyuluhan Pertanian, http://www.pikiran.rakyat.com.
Klik Dokter, 2008, Menuju Indonesia Sehat, http://www.klikdokter.com/ illnes/dental.231.
Nazirudin, U., dan Turmin, 1998, Perawatan Kesehatan Masyarakat, FKPP SPK, Bandung, hal: 62-66.
Nio, B.K., 1987, Preventive Dentistry, YKGI, Bandung, hal: 40-48.
N.N., 2006, Bersiwak Efektif Hilangkan Plak Gigi, http://www.hotarticle.org/ bersiwak-efektif-hilangkan-plak-gigi.
N.N., 2007, Kampung Naga, http://www.jawapost.com.
N.N., 2007, Tips Menyikat Gigi, http://www.rsisultanagung.co.id.
N.N., 2007, Cara Menyikat Gigi yang Baik dan Benar, http://www.senyumsehat. wordpress.com/2007/03/06.
N.N., 2007, Cara Menyikat Gigi yang Baik dan Benar, http://www.AlumniII. clubme.net.
N.N., 2008, Masalah Kesehatan Gigi Masyarakat, http://www.radarsulteng.com/ berita/index.asp.
N.N., 2008, Tujuan Menyikat Gigi, http://www.anakku.net.
N.N., 2008, Definisi Demonstrasi, http://www.apadefinisinya.blogspot.com.
N.N., 2009, Menggosok Gigi, http://www.public.kompasiana.com/ 2009/01/12/menggosok-gigi.
Notoatmodjo, 1996, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, hal: 114-116.
Mutakin, A., 2001, Profil Kehidupan Masyarakat Kampung Naga di Tengah-tengah Arus Modernisasi, Anggita Pustaka Mandiri, Bandung, hal: 41.
PDGI., 2008, Sehabis Makan Jangan Langsung Gosok Gigi, http://www.pdgi. online.com.
Purwanto, H., 1999, Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta, hal: 10-19.
Rini, 2007, Teori Kombinasi, http://www.cetak.fajar.co.id/nelus/php.
Rubianto, 2006, Penyakit Periodontal yang Mematikan, http://www. suarasurabaya.net/V06/kelanakota.
Wikipedia, 2006, Kampung Naga, http://id.wikipedia.org/wiki/kampung-naga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar